Taubat - Alvin's
2:49 AM | Author: Ghee

Tak terasa waktu berlalu

Hidup penuh dengan dosa

Nista yang slama ini

Menyelimutiku


Hari ini aku teguhkan

Tuk temukan jalan hidupku

Selama aku masih diberi

Umur yang panjang


Allah adalah Tuhanku

Muhammad adalah Nabiku

Alquran lah kitabku

Islam adalah agamaku


Tak ada kata terlambat

Tuk bertaubat dihadapNya

Selama aku bernafas

Allah kan selalu di hatiku


Lagu ini enak banget, nd tentunya slalu mengingatkan kita akan taubat...

"Setitik Harapan Seorang Bapak..."
11:45 PM | Author: Ghee
"Karna semangatnya untuk sembuh, makanya Bapak tak akan berhenti berupaya untuk kesembuhannya, meski sakit semacam itu tak ada harapan baginya untuk sembuh seperti halnya pasien lainnya, bahkan dokter pun sudah angkat tangan..."

Begitulah kira-kira harapan seorang Pak Herno pada kesembuhan putri semata wayangnya yang didera sakit. Meskipun ada setitik kecemasan dari raut wajahnya, harapan dan semangatlah yang telah putrinya tulari pada seorang Bapak dengan ketegarannya. Seakan siap apapun yang terjadi, doa dan ikhtiar tak akan kenal putus asa bagi Bapak ini.

"Baik alternatif maupun medis telah bapak jalani, apapun caranya bapak usahakan, lagi-lagi neng karena semangatnya untuk sembuh tak pernah pudar dan itu telah menulari kami untuk tetap semangat.."

Begitulah, tak perlu harus secara langsung kita memotivasi orang lain, dengan semangat dan motivasi dari dalam diri kita pun secara tak langsung bak parfume akan menyebarkan aromanya pada sekitar, harumnya menyegarkan bau kemalasan dan kekosongan dalam hidup.

Terkecuali yang satu ini...
Ada seorang kawan yang cukup dekat dengan saya. Ketika beliau bercerita tentang keluh kesahnya, bukan keluhnya yang dia tekankan dan tularkan, tetapi hikmahnya dari setiap yang beliau alami. Dan yang paling unik dari beliau adalah dalam keadaan sedih, kecewa, atau putus asa, beliau tetap menyemangati. Ah, alhamdulillah saya memiliki kesempatan berkawan dengan beliau.

Jadi, mari kita bersemangat, meski sedang sedih, perlihatkan bahwa kita sedang bahagia, karna kesedihan kita akan menulari orang lain, kecuali kesedihannya dapat memotivasi kita. Jangan biarkan orang lain tahu bahwa diri kita sedang berduka. Jika ingin bercerita dan mencari solusi, berceritalah dengan mengandaikan tokoh utama diri kita dengan peran orang lain atau nama orang lain. Dan, tentunya sebaik-baik tempat pencurahan hati kita tentu saja hanya pada Allah SWT.

"Secuil harapan dan semangat memberitahuku tentang dirinya, bahwa dirinya bukan dilahirkan dari orang lain, melainkan dari dalam hati dan jiwa dirinya sendiri..."
Terkenang kembali saat kebersamaan di penghujung 2010, terlebih karena indahnya bersama kawan-kawan yang gemar hiking seperti saya. Gemar menghirup udara segar dari hamparan hijau kebun teh, dinginnya air sungai, nikmatnya makan di pinggir sungai. Ah, benar-benar indah.

Saat itu, tanah November 2010 telah basah disiram hujan tadi malam. Cuaca
mendung tak menyurutkan langkah kami menuju daerah Bandung Utara tepatnya di daerah Parongpong. Saya berangkat dari rumah pukul 07.00 pagi dari daerah Kopo bersama kawan saya, Salma, yang kebetulan bertempat tinggal di daerah yang sama hanya berjarak sekitar 1 km. Berangkat dengan angkutan umum menuju termItalicinal Leuwi panjang, dilanjut dengan bis DAMRI jurusan Ledeng. Sesampainya di terminal Ledeng, dilanjut dengan angkutan umum berwarna putih lewat jalan Sersan Bajuri. Sekitar satu jam, kami sampai di terminal Parongpong. Berhubung kawanku yang satu lagi belum datang, yaitu Teh Midah yang bedomisili di Cimahi, kami menunggu beliau di pelataran warung sambil ngopi dulu sejenak. Setelah menunggu cukup lama, sekitar pukul 11.00 kami meluncur ke lokasi dengan track pertama melewati Perumahan Villa Merah. Lumayan sejuk. Selanjutnya melewati CIC (Ciwangun Indah Camp). Sekali lagi, hanya lewat, cos demi asas hemat (padahal kantong pas-pasan,, hehe), kami mengambil jalan lain yang tak bergerbang yaitu kawasan Sukawana. Sebelum memasuki gerbang kawasan CIC, kami berbelok ke pemukiman warga, sebenarnya sempat salah arah sih, tetapi memegang prinsip malu bertanya sesat di jalan, maka kami pun bertanya pada salah satu warga dan akhirnya kita sampailah di sebuah mesjid di daerah Sukawana. Kami beristirahat terlebih dahulu untuk sholat dhuhur dan makan siang. Tak disangka kami bertemu kawan-kawan dari kampus kami, grup Analyst Touring Community (ATC). Wah, senangnya kami saat itu.

NI, dia lokasi start kami di depan mesjid di Sukawana

Kami lanjutkan perjalanan survey hiking kami melewati kebun teh. Wuih,, sejuknya,, dilanjut dengan berjalan membelah kebun teh melewati jalan setapak menembus pepohonan, kemudian tibalah di hutan pohon pinus yang elok. Dan hujan pun turun membasahi dedaunan hijau yang sejuk.


Foto ekspresiku (kanan) sama Teh Midah (kiri, yang payungan)
Berhubung hujan, kita payungan deh.


Oke, kami melanjutkan perjalan ini melewati jalan dengan lebar sekitar 2 meter di antara tebing dan jurang. Cukup menegangkan, tapi menantang juga. Dan sampailah di air terjun kecil yang turun membelah dan menutupi jalan yang dilalui. Menurut Salma, sebelumnya itu jalan bebatuan biasa, bukan sungai kecil. Ya sudah, dengan terpaksa kami membuka sepatu dan menceburkan kaki kami ke dalam air yang super duper dingin.




Fotonya ga da Salma ya,, cos dia moto-moto melulu..)


Lanjut nih, kita jalan lagi menuju lembah dan kita disana kebingungan cos ada dua jalan. Yang satu jalan menuju bukit, kebetulan jalannya licin karena hujan, yang satu lagi datar tapi berbelok. Sesuai petunjuk Salma, kita lanjut menaiki bukit aja. Oke, kita capcus menuju bukit cukup terjal sambil berpayung ria. Lucu juga, apalagi pas Salma jatuh, hehe..(pis Sal...) Selanjutnya kita berjalan-jalan ria melewati kebun teh dan alang-alang nan indah, tentunya sambil berpayung ria. Disana kita jauh dari penduduk, cos jarang ada orang. Ada rasa kekhawatiran juga sih, udah mah cuaca lumayan tak bersahabat, tapi La haula aja, kita serahkan sama Allah Sang Penakluk Alam. Ga kerasa, kita melewati pepohonan rindang mirip hutan, semakin takut, heuheu,, sampai akhirnya kita melihat air terjun dari atas bukit. Lega rasanya, cos perjalanan yang cukup menantang apalagi ga ada orang lain selain kita bertiga yang kece (ups...).

Lagi-lagi, kita mesti terjun ke air yang super dingin tapi bening, kayak beningnya kita bertiga (lagi2.. ups), tapi tak apalah, itu kan sensasinya ber-hiking ria. Akhirnya kita sampai juga di kawasan curug, yang pada akhirnya baru saya tahu belakangan ini nama curugnya adalah Curug Putri yang indah dengan debit air yang tinggi karena sedang musim hujan.

Ditemani dengan kopi mocca hangat buatan Salma dan ayam bakar yang saya bawa, juga mie goreng lada hitam yang maknyus buatan teh Midah (Teteh yang satu ini hobinya masak lho,, mie goreng biasa aja bisa disulap jadi luar biasa rasanya, mantaplah...),, kami bertiga mengakhiri sore hari di pelataran sungai dengan hijaunya dedauan rindang, embun sore hari dan indahnya cinta persahabatan.

Nantikan part 2 nya ya.... miss yu...
Assalamualaikum...