
Masih ingat tragedi 11 September 2001? Ya, tentang robohnya World Trade Center yang terkenal itu. Dimana diisukan bahwa dalang dari robohnya gedung tersebut adalah umat muslim ekstrem yang berniat menghancurkan kedamaian negeri. Beraksilah para bos white house lewat antek-anteknya di CIA buat bikin isu semakin panas. So, bahkan sebagian umat muslim sedunia pun jadi antipati sama yang namanya Islam. Finally, dicetuskanlah Islam sebagai agama “teroris”. Dengan dalih mayoritas, mereka menginjak-injak Islam dengan menutupi kenyataan bahwa umat Islam merupakan pribadi-pribadi yang terbuka, demokrat, yang memberikan peluang untuk saling memelihara sejuknya kehidupan ini. Balik lagi, ini hanya skenario mereka. Skenario agar umat muslim masa depan tak mengenal lagi identitasnya lagi sebagai umat muslim.
Tapi, skenario mana sech yang bisa mengubah dan mengelak skenario Allah? Pasca robohnya gedung kembar, umat non muslim malah mengekspresikan pandangan mereka terhadap dunia Islam secara terbuka. Ada yang beneran tambah antipati, tapi lebih banyak juga yang terbuka pikirannya ‘n berbondong-bondong ke toko buku nyari apa itu Islam. Sampai dikabarkan bahwa kitab Al-Quran yang suci disana laris manis dibeli oleh orang non muslim. Tak luput juga, Harian New York Times (22/10/2001) mengungkapkan bahwa tragedi tersebut meningkatkan banyaknya umat non-muslim “murtad” dari agama mereka alias masuk Islam yaitu sekitar 25 ribu non-muslim. Bayangkan jika tumbuh suburnya umat muslim di sana terus meningkat. Itu kasus di “negeri sana”.
Kita go back to Indonesia, negeri yang kata orang bule subur makmur, indah alamnya, budayanya, ramah tamah, rajin ‘n suka menabung “uang orang”. Ledakan sana sini silih berganti, sampai teror ledakan beneran memanas buat siapapun, kapanpun, terutama dengan tujuan umat non-muslim. Ya, isu tersebut tersebar di berbagai media massa, lagi-lagi agar yang tertuduh adalah umat muslim. Setelah isu itu redup, barulah strategi lain di pasang lewat ajang bakat yang mirip-mirip “negeri sana” agar mengalihkan idol-nya dari Nabinya menjadi “sang penggoda” berwajah halus plus mulus yang mengumbar nafsu dan mengejar dunia yang fana. Sampai-sampai dia rela berkorban apa aja buat idolanya, rela tak makan demi mengejar idolanya, rela menangis karna ditinggal idolanya. Jangan lebay dech! Ingat bahwa orang yang dicintai akan mendampingi kita di akhirat sana. Sebel juga kan, kalo “artis paling ngetop” di akhirat sana terus ngekor sama kita menuju “lembah terhina” karena di dunia kita yang ngekor sama dia.
So, life is not game, bukan permainan seperti monopoli yang memainkan orang-orangan berputar dari satu negara-negaraan ke negara-negaraan lain. Di perjalanan terkadang ada rumah-rumahan atau hotel-hotelan dimana kalo ada yang menginjaknya, orang yang main musti bayar uang bohongan. Kalo beruntung, dapet kesempatan yang menguntungkan, atau dapet zonk masuk penjara bohongan atau bayar denda bohongan. Nah, hidup kita gak bisa diibaratkan kayak main monopoli, bisa diatur seenaknya. Mungkin memang mirip seandainya kita sebagai manusia jadi orang-orangan dalam permainan monopoli itu. But, life is not game, karena Allah tak pernah mempermainkan makhluk-Nya. Segala yang terjadi ada alasannya dengan bukti yang nyata meski terkadang manusia tak menyadarinya. Bahkan rasa sakit pun ada alasannya. Pernah suatu ketika seorang anak yang tak memiliki indra perasa. Berawal dari sering mencolok matanya hingga berdarah sampai mengggit jarinya sampai hancur tanpa rasa sakit sedikitpun.
"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka"
Kalau kamu pernah atau hobi bertafakur alam ke gunung atau mendaki tebing-tebing curam, berjalan di antara dua jurang dengan hembusan angin kencang yang menerpa kita yang sewaktu-waktu kita bisa jatuh ke dasar jurang yang sulit buat didaki lagi atau bahkan kita bisa mati disana dimakan serigala. Atau kita bisa kuat menahan hembusan angin tersebut sampai kita bisa mencapai puncak dengan selamat sentosa. Nah, hidup kita seperti itu, dikasih dua pilihan, jika tak puncak, maka dapet jurang, jika tidak benar maka salah, jika tak kuat, maka lemah, jika tak bergerak, maka diam saja sampai dunia berat menopangmu. Bahkan dunia pun bosan hingga beruban melihatmu diam saja, duduk manis tanpa ilmu dan amal. Padahal kebenaran itu ada di sekitar kita jika kita berusaha mencarinya. Mungkin tinggal selangkah lagi kau mencari, kau bisa menemukan kebenaran itu. Hanya tinggal memilih saja, diam atau bergerak?


0 comments: